Ensiklopedia Buku Islam

Beranda » Buku: Tarikh » Ar-Rahiq Al-Makhtum [Part 1]

Ar-Rahiq Al-Makhtum [Part 1]

Iklan



BIOGRAFI PENULIS SYAIKH SHAFIYYURRAHMAN AL-MUBARAKFURI

 

Nama lengkap beliau adalah Shafiyyurrahman bin Abdullah bin Muhammad Akbar bin Muhammad Ali bin Abdul Mu’min bin Faqirullah Al-Mubarakfuri Al-A’zhami. Lahir pada 6 Januari 1943 M di Mubarakpur, India. Keluarga beliau dinasabkan kepada kaum Anshar, sebagaimana banyak keluarga lain di India dinasabkan kepada mereka. Bahkan secara spesifik sebagai keturunan shahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.

Pada masa awal pertumbuhan, beliau banyak mempelajari Al-Qur’an, kemudian masuk ke Madrasah Darut Ta’lim di Mubarakpur th. 1948. Beliau belajar di sana selama 6 tahun hingga lulus level Ibtidaiyah. Kemudian melanjutkan study di Madrasah Ihya’ul ‘Uluum di Mubarakpur pada Januari 1954 M. Di sana selama 5 tahun beliau fokus mempelajari bahasa Arab, kaidah-kaidahnya, serta ilmu-ilmu syar’i seperti Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqh, dll. Akhirnya beliau berhasil lulus pada Januari 1961 dengan predikat mumtaz (cum laude). Bahkan, sebelum itu beliau sudah berhasil meraih ijazah bergelar maulawi pada Februari 1959. Juga title Alim dan Hai’ah Al-Ikhtibarat li Al-‘Uluum Asy-Syarqiyyah di Allahabad, India pada Februari 1960.

Selepas menyelesaikan pendidikan formal, beliau banyak menghabiskan waktu untuk mengajar, berkhutbah, dan menyampaikan kajian umum serta berdakwah di daerah Allahabad. Beliau pun diundang untuk mengajar di Madrasah Faidh ‘Amm selama dua tahun. Sempat pula mengajar setahun di Universitas Ar-Rasyad di A’zhamkadah. Kemudian diundang ke Madrasah Darul Hadtis di Mu’afi pada Februari 1966, dan mengajar di sana selama 3 tahun. Beliau dipercaya sebagai Pembantu Ketua Bagian Pengajaran dan Urusan Internal. Kemdian beliau mendapatkan amanat sebagai wakil ketua umum yang bertanggung jawab terhadap urusan internal maupun eksternal lembaga sekaligus sebagai supervisor staf pengajar di Jami’ Saiwani selama 4 tahun akademik.

Setelah kembali ke Tanah Air pada akhir 1972, beliau mengajar di Madrasah Darut Ta’lim dan menjabat sebagai direktur pengajaran selama 2 tahun akademik. Atas permintaan rekotr Unversitas Salafiyyah, Benares, beliau pindah mengajar di sana pada tahun 1974. Selanjutnya lebih banyak melaksanakan amanat di bidang kegiatan belajar-mengajar dan dakwah di sana selama sekitar 10 tahun ke depannya. Beliau pun menjadi Pemimpin Redaksi majalah bulanan Muhaddits yang terbit di India dalam bahasa urdu. Di sela-sela kesibukan tersebut, beliau sempat meraih gelar formal dengan title Fadhilah di bidang Sastra Arab pada tahun 1976.

Pada tahun yang sama Rabithah Al-‘Alam Al-Islami di Mekkah menyelenggarakan kompetisi ilmiyah tentang Sirah Nabawiyah yaitu pada Konferensi Islam Internasional I tentang sirah Nabawiyah yang diselenggarakan di Pakistan. Pada momen itulah Syaikh Menulis kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum dan berhasil meraih juara I. Kemudian melanjutkan safari ilmiyah ke Universita Islam Madinah untuk melanjutkan proyek riset ilmiyah di Pusat Pelayanan Sunnah dan Sirah Nabawiyah pada tahun 1409 H dan bekerja di Maktabah Darussalam di Riyadh sebagai pengarah di bagian Riset dan Tahqiq Ilmiyah hingga beliau wafat. Beliau meninggal ketika Shalat Jum’at pada 10 Dzulqa’adah 1427 H / 1 Desember 2006 M di tempat kelahiran beliau, Mubarkpur India.

Syaikh memiliki sejumlah karya di bidang tafsir, hadits, mushthalah, sirah nabawiyah, dakwah. Jumlahnya sekitar 30 judul dalam dua bahasa Arab dan Urdu. Diantaranya yang terpenting:

  • Ar-Rahiq Al-Makhtum (telah diterjemahkan setidaknya ke dalam 15 bahasa yang berbeda)
  • Raudhah Anwari fii Siratin Nabiyyil Mukhtar (versi ringkas tentang sirah Nabawiyah)
  • Minnatul Mun’im: Syarh Shahih Muslim
  • Ithaful Kiram; Syarh Bulughil Maram
  • Bahjatun Nazhari fii Mushthalahi Ahlil Atsar
  • Ibrazul Haqqi wash Shawwab fii Mas’alatis Sufuri wal Hijab
  • Al-Ahzab As-Siyasiyyah fii Al-Islam
  • Tathwirusy Syu’ubi Wad Diyanati Fil Hind
  • Al-Firqah An-Najiyyah; Khasha’ishuha wa Mizatuha
  • Al-Bisyarat bi Muhammad fii Kutub Al-Hind wal Budziyyin dan
  • Al-Mishbah Al-Munir; Tahdzib Tafsir Ibn Katsir.

[page: xxxvii – xxxviii]


Letak Geografis Arab & Kondisi Penduduknya

Sirah Nabawiyyah pada hakikatnya merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada masyarakat manusia. Dengan risalah itu, beliau mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, dari penyembahan terhadap hamba kepada penyembahan terhadap Allah, sehingga garis sejarah berganti dan kehidupan manusia di dunia ini berubah. Gambaran yang menakjubkan ini tidak mungkin bisa dihadirkan kecuali setelah membandingkan kondisi yang ada sebelum risalah ini dan apa yang terjadi setelah ia datang.

Berangkat dari persoalan tersebut, sebelumnya kami (Syaikh Shafiyyurrahman) akan mengemukakan uraian ringkas tentang bangsa Arab dan peradabannya sebelum Islam. Di samping itu kami juga akan menguraikan sedikit tentang beberapa kondisi menjelang pengutusan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[page: 39]


LETAK GEOGRAFIS JAZIRAH ARAB

Menurut bahasa, kata Arab berarti padang pasir; tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kepada Jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan dareah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Secara geografis, Jazirah Arab dibatasi oleh Laut Merah dan Gurun Sinai di sebelah barat, Teluk Arab dan sebagian besar negeri Iraq Selatan di sebelah timur, Laut Arab yang bersambung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan dan negeri Syam dan sebagaian kecil dari negara Iraq di sebelah utara. Meskipun ada kemungkinan sedikit perbedaan dalam penentuan batasan ini. Luasnya membentang antara 1 x 1,3 juta mil persegi.

Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena kondisi alam dan letak geografisnya. Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. Karena kondisi seperti inilah yang membuat Jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok dan menguasai bangsar Arab. Oleh karena itu, kita bisa melihat penduduk Jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dalam segala urusan sejak zaman dahulu. Padahal, pada waktu itu mereka hidup bertetangga dengan dua imperium besar saat itu (Romawi dan Persia), yang serangannya tak mungkin bis dihadang andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh seperti itu.

Hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab terletak di benua yang sudah dikenal sejak dahulu kala, yang mempertautkan daratan dan lautan. Sebelah barat laut merupakan pintu masuk ke Benua Afrika, sebelah timur laut merupakan kunci masuk ke Benua Eropa dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi bangsa-bangsa non-Arab, Timur Tengah dan Timur Dekat, terus membentang ke India dan Cina. Setiap benua yang mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut yang berlayar pasti akan besandar di pinggiran wilyahnya.

Karena letak geografisnya seperti itu pula, sebelah utara dan selatan Jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar-menukar perniagaan, peradaban, agama dan seni.

BANGSA ARAB

Merujuk kepada silsilah keturunan dan asal-usulnya, para sejarawan membagi bangsa Arab menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. 1.      Arab Ba’idah: yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sejarahnya tidak bisa dilacak secara rinci dan komplit, seperti (kaum) Ad, Tsamud, Thasm, Judais, Imlaq, Umain, Jurhum, Hadhur, Wabar, Abil, Jasim, Hadramaut dan lain-lainnya.
  2. 2.      Arab Aribah: yaitu bangsa Arab yang berasal dari keturunan Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Sukubangsa Arab ini dikenal dengan sebutan Arab Qahthaniyah.
  3. 3.      Arab Musta’riba: yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma’il yang disebut juga dengan Arab Adnaniyah.

Arab Aribah adalah bangsa Qahthan. Tempat asal-usulnya adalah negeri Yaman, lalu berkembang menjadi beberapa kabilah dan suku. Yang terkenal adalah dua kabilah yaitu:

  1. a.      Kabilah Himyar, yang terdiri dari beberapa suku terkenal yaitu; Zaid Al-Jumhur, Qudha’ah dan Sakasik.
  2. b.      Kahlan, yang terdiri dari beberapa suku terkenal yaitu; Hamadan, Anmar, Thayyi’, Madzhaj, Kindah, Lakham, Judzam, Azad, Aus, Khazraj, dan anak keturunan Jafnah, Raja Syam.

Suku-suku Kahlan banyak yang hijrah meninggalkan Yaman, lalu menyebar ke berbagai penjuru Jazirah Arab menjelang terjadinya banjir besar saat mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan. Hal ini sebagai akibat dari tekanan bangsa Romawi dan tindakan mereka menguasai jalur perdagangan laut dan setelah mereka menghancurkan jalur darat serta berhasil menguasai Mesir dan Syam.

Tidak aneh bila itu terjadi sebagai akibat dari persaingan antara suku-suku Kahlan dan suku-suku Himyar, yang berakhir dengan keluarnya suku-suku Himyar dan ditandai dengan menetapnya suku Himyar.

Suku-suku Kahlan yang berhijrah dapat dibagi menjadi empat golongan:

  1. 1.      Azad

Perpindahan mereka dipimpin oleh pemuka dan pemimpin mereka, Imran bin Amru Muzaiqiya’. Mereka berpindah-pindah di negeri Yaman dan mengirim para pemandu; lalu berjalan kea rah utara dan timur. Dan inilah rincian akhir tempat-tempat yang pernah mereka tinggali setelah perjalanan mereka tersebut: Tsa’labah bin Amru pindah dari Azad menuju Hijaz, lalu menetap di antara Tsa’labiyah dan Dzi Qar. Setelah anaknya besar dan kuat, dia pindah ke Madinah dan menetap di sana. Di antara keturunan Tsa’labah ini adalah Aus dan Khazraj, yaitu dua orang anak dari Haritsah bin Tsa’labah.

Di antara keturunan mereka yang bernama Haritsah bin Amr (atau yang dikenal dengan Khuza’ah) dan anak keturunannya berpindah ke Hijaz, hingga mereka singgah di Murr Azh-Zhahran, yang selanjutnya membuka Tanah Suci dan mendiami Makkah serta mengusir penduduk aslinya, Al-Jarahimah. Sedangkan Imran bin Amr singga di Oman lalu bertempat tinggal di sana bersama anak-anak keturunannya, yang disebut Azd Oman, sedangkan kabilah-kabilah Nashr bin Al-Azd menetap di Tihamah, yang disebut Azd Syanuah. Jafnah bin Amr pergi ke Syam dan menetap di sana bersama keturunannya. Dia dijuluki Bapak Para Raja Al-Ghassasinah, yang dinisbatkan kepada mata air di Hijaz, yang dikenal dengan nama Ghassan, yang telah mereka singgahi sebelum akhirnya pindah ke Syam.

  1. 2.      Lakhm dan Judzam

Mereka pindah ke timur dan utara. Tokoh di kalangan mereka adalah Nashr bin Rabi’ah, pemimpin raja-raja Al-Mundzir di Hirah.

  1. 3.      Bani Tha’i

Setelah Azad berpindah, mereka berpindah ke arah utara hingga singgah di antara dua gunung, Aja’ dan Salma. Mereka menetap di sana, hingga mereka dikenal dengan sebutan Al-Jabalani (dua gunung) di Gunung Thayyi’.

  1. 4.      Kindah

Mereka singgah di Bahrain, lalu terpaksa meninggalkannya dan singgah di Hadramaut. Namun, nasib mereka tidak jauh berbeda saat berada di Bahrain, hingga mereka pindah lagi ke Nejd. Di sana mereka mendirikan pemerintahan yang besar dan kuat. Tetapi, secepat itu pula mereka punah dan tak meninggalkan jejak. Di sana masih ada satu kabilah Himyar yang diperselisihkan asal keturunannya, yaitu Qudha’ah. Mereka hijrah meninggalkan Yaman dan menetap di pinggiran Iraq.[1]

Adapun Arab Musta’aribah -nenek moyang mereka yang tertua adalah Ibrahim ‘alaihissalaam- yang berasal dari negeri Iraq, dari sebuah daerah yang disebut Ar. Kota ini berada di pinggir barat Sungai Eufrat, berdekatan dengan Kufah. Cukup banyak penelusuran dan penelitian yang luas mengenai negeri ini, selain tentang keluarga Ibrahim ‘alaihissalaam, kondisi keagamaan dan sosial di negeri tersebut.[2]

Kita tahu bahwa Ibrahim ‘alaihissalaam hijrah dari Iraq ke Haran atau Harran, termasuk pula ke Palestina. Ia lalu menjadikan negeri itu sebagai basis dakwahnya. Ia banyak menelusuri negeri ini dan negeri laninnya.[3] Di salah satu perjalanan tersebut Ibrahim ‘alaihissalaam bertemu dengan Fir’aun. Istri Ibrahim Sarah, turut menenaminya. Sarah merupakan wanita yang tercantik. Maka Fir’aun itu hendak memasang siasat buruk terhadap Istri beliau. Namun Sarah berdoa kepada Allah sehingga dia membalikkan jerat yang dipasang raksasa itu ke lehernya sendiri. Akhirnya raja yang zhalim itu tahu bahwa Sarah merupakan wanita Shalihah yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Karena itu, ia menghadiahkan putrinya [4] Hajar menjadi pembantu Sarah, sebagai pengakuan atas keutamaan Sarah atau karena ia takut terhadap siksa Allah. Akhirnya Sarah menikahkan Hajar dengan Ibrahim.[5]

___________________________

  1. Lihat uraian lengkap tentang kabilah-kabilah ini dan perpindahan mereka di kitab Muhadharat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah, Al-Khudhari, 1/11-13 dan Qalbu Jaziratil ‘Arab, hlm. 231-235. Beberapa referensi sejarah menunjukkan perbedaan besar dalam memastikan waktu-waktu perpindahan dan penyebabnya. setelah melakukan pengkajian dari semua aspek, kami menetapkan seperti yang kami uraikan di bagian ini sesuai dengan dalil yang ada.
  2. Tafhimul Qur’an, Abul A’la Al-Maududi, 1/553-556
  3. Tarikh Ibnu Khaldun, 1/108
  4. Yang populer, Hajar adalah seorang budak, Namun Al-‘Allamah Al-Manshurfuri telah memverifikasi bahwa ia adalah wanita merdeka. Ia adalah anak dari Fir’aun (gelar raja Mesir Kuno). Lihat Rahmatan Lil-‘Alamin, 2/36-37.
  5. Ibid 2/34, Lebih lengkap lagi lihat Shahih Al-Bukhari 3/474.

 

[page: 39-44]


Ibrahim ‘alaihissalaam kembali ke Palestina dan Kemudian Allah menganugerahkan Ismail dari Hajar. Hal ini membuat Sarah terbakar api cemburu. Dia memaksa Ibrahim agar menjauhkan Hajar dan putranya yang masih kecil, Ismail. Maka Ibrahim membawa keduanya ke Hijaz dan menempatkan mereka berdua di suatu lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, di Baitul Haram, yang saat itu hanya berpua gundukan-gundukan tanah. Rasa gundah mulai menggelayuti pikiran Ibrahim. Beliau menoleh ke kiri dan kanan, lalu meletakkan putranya di dalam tenda, di dekat zamzam. Saat itu di Mekkah belum ada seorang manusia pun dan tidak ada mata air. Beliau meletakkan kantong berisi kurma dan geriba berisi air di dekat Hajar dan Ismail. Setelah itu beliau kembali lagi ke Palestina. Beberapa hari setelah itu, bekal dan air sudah habis, sementara tidak ada mata air yang mengalir. Tiba-tiba mata air zamzam memancar berkat karunia Allah, sehingga bisa menjadi sumber penghidupan bagi mereka berdua, yang tak pernah habis hingga sekarang. Kisah mengenai hal ini sudah banyak diketahui secara lengkapnya. [6]

Suatu kabilah dari Yaman (Jurhum Kedua) datang ke sana. Dan atas izin Ibunda Ismail mereka menetap di Mekkah. Ada yang mengatakan mereka sudah berada di sana sebelum itu, menetap di lembah-lembah di pinggir kota Mekkah. Namun, riwayat Al-Bukhari menegaskan bahwa mereka singgah di Mekkah setelah kedatangan Ismail dan Ibunya, sebelum Ismail remaja. Mereka sudah biasa melewati jalur Mekkah sebelum itu.[7]

Dari waktu ke waktu Ibrahim datang ke Mekkah untuk menjenguk keluarganya. Tidak diketahui secara pasti berapakali kunjungan yang dilakukannya. Hanya saja menurut beberapa referensi sejarah yang dapat dipercaya, kunjungan itu dilakukan sebanyak empat kali.

Pertama : Allah telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa Ibrahim bermimpi bahwa beliau menyembelih putranya, Ismail. Maka ia pun bangkit untuk melaksanakan perintah dalam mimpi itu.

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 103-107)

Di dalam Kitab Kejadian  disebutkan bahwa umur Ismai 13 tahun lebih tua daripada Ishaq. Dari rentetan kisah ini menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi sebelum Ishaq lahir. Sebab, kabar gembira tentan kelahiran Ishaq disampaikan setelah terjadinya kisah ini. Setidak-tidaknya kisah ini menunjukkan kisah perjalanan Ibrahim, sebelum Ismail menginjak remaja. Adapun tentang perjalanan lainnya telah diriwayatkan Al-Bukhari secara panjang lebar dari Ibnu Abbas secara marfu’ [8] yang intinya adalah:

Kedua : Bahwa sebelum remaja, Ismail belajar Bahasa Arab dari kabilah Jurhum. Karena merasa tertarik kepadanya, maka mereka menikahkannya dengan salah seorang putri keturunan mereka. Saat itu ibu Ismail sudah meninggal dunia. Suatu saat Ibrahim hendak menjenguk keluarga yang ditinggalkannya. Maka beliau datang setelah pernikahan itu. Tatkala tiba dirumah Ismail , beliau tidak mendapatkan Ismail. Maka beliau bertanya kepada istrinya, bagaimana keadaan mereka berdua. Istri Ismail mengeluhkan kehidupan mereka yang melarat. Maka Ibrahim pun titip pesan, agar istrinya menyampaikan kepada Ismail untuk mengubah palang pintu rumahnya. Setelah diberitahu, Ismail mengerti maksud pesan ayahnya. Maka Ismail menceraikan istrinya dan mneikah lagi dengan wanita lain, yaitu putri Mudhadh bin Amru, pemimpin dan pemuka kabilah Jurhum.[9]

Ketiga : Setelah perkawinan Ismail yang kedua ini, Ibrahim datang lagi, namun tidak bisa bertemu dengan Ismail. Beliau bertanya kepada istri Ismail tentang keadaan mereka berdua. Jawaban istri Ismail adalah pujian kepada Allah. Lalu Ibrahim kembali lagi ke Palestina setelah titip pesan lewat istri Ismail, agar Ismail memperkokoh palang pintu rumahnya.

Keempat : Pada kedatangan berikutnya, Ibrahim bisa bertemu dengan Ismail yang saat itu Ismail sedang meraut anak panahnya di bawah sebuah pohon di dekat Zamzam. tatkala melihat kehadiran ayahnya, Ismail berbuat sebagaimana layaknya seorang anak yang lama tidak bersua bapaknya, dan Ibrahim juga berbuat layaknya seorang bapak yang telah lama tidak bersua putranya. Pertemuan ini terjadi setelah sekian lama. Sebagai seorang ayah penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut. sulit rasanya beliau bisa menahan kesabaran untuk bersua anaknya. Begitu juga dengan Ismail, sebagai anak yang berbakti dan shaleh. Dengan adanya perjumpaan ini mereka berdua sepakat untuk membangun Ka’bah, meninggikkan sendi-sendinya dan Ibrahim memperkenankan manusia untuk berhaji sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada beliau.

_____________________________

6. Lihat Shahih Al-Bukhari 3/474-475, Kitab Al-Anbiya’ nomor: 3364, 3365

7. Ibid, 1/475, nomor: 3364

8. Ibid, 1/475

9. Qalbu Jaziratil ‘Arab, hlm. 230

 

[page: 45-47]


Dari perkawinannya dengan anak perempuan dari Mudhadh, Ismail dikaruniai anak oleh Allah sebanyak dua belas, semuanya laki-laki [10] yaitu:

  1. Nabat atau Nabayuth
  2. Qaidar
  3. Adba’il
  4. Mibsyam
  5. Misyma’
  6. Duma
  7. Misya
  8. Hadad
  9. Taima’
  10. Yathur
  11. Nafis
  12. Qaiduman

Dari mereka inilah kemudian berkembang menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di Mekkah untuk sekian lama. Mata pencaharian utama mereka adalah berdagang dari negeri Yaman hingga negeri Syam dan Mesir. Selanjutnya kabilah-kabilah ini menyebar di berbagai penjuru jazirah, bahkan keluar jazirah. Seiring dengan perjalanan waktu, keadaan mereka tidak lagi terdeteksi, kecuali anak keturunan Nabat dan Qaidar.

Peradaban anak keturunan Nabat bersinar di Hijaz Utara. Mereka mampu mendirikan pemerintahan yang kuat yang berpusat di Petra sebuah kota kuno yang terkenal di selatan Yordania. Kekuasaan Nabat ini telah mencapai wilayah-wilayah terdekat dan tidak seorang pun berani memusuhi mereka hingga datang pasukan Romawi yang menghabisi mereka.

Setelah melakukan penyelidikan dan penelitian yang akurat, As-Sayyid Sulaiman An-Nadawi menegaskan bahwa raja-raja keturunan Ghassan, termasuk Aus dan Khazraj, bukan berasal dari keturunan Qahthan, tetapi dari keturunan Nabat, anak Ismail dan keturunan mereka di negeri tersebut. [11]

Sementara itu, anak keturunan Qidar bin Ismail tetap tinggal di Mekkah dan membina keluarga di sana hingga mendapatkan keturunan, Adnan dan anaknya, Ma’ad. Dari dialah keturunan Arab Adnaniyah masih bisa dipertahankan keberadaannya. Adnan adalah kakek ke-22 dalam silsilah keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[12][13]

Segolongan ulama membolehkan penyebutan nasab dari Adnan ke atas namun mereka berbeda pendapat mengenai rincian nasab dengan perbedaan yang tidak mungkin untuk dikompromikan. Adapun peneliti senior Al-‘Allamah Al-Qadhi Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri rahimahullah menguatkan pendapat Ibnu Sa’ad –sebagaimana yang disebutkan pula oleh Ath-Thabari, Al-Mas’udi, dan selain mereka di sejumlah tempat–  bahwa antara Adnan sampai Ibrahim ‘alaihissalaam ada empat puluh keturunan, ini menurut penelitian yang cukup mendalam.[14]

Keturunan Ma’ad dari anaknya Nizar telah berpencar ke mana-mana. Menurut salah satu pendapat, Nizar adalah satu-satunya anak Ma’ad. Sementara itu Nizar sendiri mempunyai empat anak, yang kemudian berkembang menjadi empat kabilah besar, yaitu:

  1. Iyad
  2. Anmar
  3. Rabi’ah
  4. Mudhar

Dua kabilah terakhir inilah yang paling banyak marga dan sukunya. Dari Rabi’ah ada Asad bin Rabi’ah, Anzah, Abdul Qais, dua anak Wa’il, Bakar dan Taghlib, Hanifah dan lain-lainnya.

Keturunan Mudhar berkembang menjadi dua suku yang besar yaitu; Qais Ailan bin Mudhar dan marga-marga Ilyas bin Mudhar. Dari Qais Ailan lahirlah Bani Sulaim, Bani Hawazain, Bani Ghathafan. Dari Ghathafan lahir Abs, Dzibyan, Asyja’ dan A’shar. Dari Ilyas bin Mudhar ada Tamim bin Murrah, Hudzail bin Mudrikah, Bani Asad bin Khuzaimah dan marga-marga Kinanah bin Khuzaimah. Dari Kinanah lahirlah Quraisy, yaitu anak keturunan Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah.

Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, yang terkenal adalah Jumuh, Sahm, Adi, Makhzum, Taim, Zuhrah, dan suku-suku Qushay bin Kilab, yaitu; Abdud-Dar bin Qushay, Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay, dan Abdu Manaf bin Qushay.

Abdu Manaf mempunyai empat anak; Abdu Syams, Naufal, Al-Muththalib dan Hasyim. Hasyim adalah keluarga yang dipilih Allah bagi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim.[15]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail dari keturunan Ibrahim. telah memilih Bani Kinanah dan keturunan Ismail. telah memilih suku Quraiss dari Bani Kinanah. telah memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy, dan telah memilihku dari Bani Hasyim. “[16] – [17-18]

Setelah anak-anak Adnan menjadi banyak, mereka berpencar di berbagai tempat di penjuru Jazirah Arab, masing-masing mencari tempat yang strategis dan daerah yang subur. Abdul Qais dan anak-anak Bakar bin Wa’il serta anak-anak Tamim pindah ke Bahrain dan menetap di sana. Sedangkan Bani Hanifah bin Sha’b bin Ali bin Bakar pindah ke Yamamah dan menetap di Hijr, Ibukota Yamamah. Semua keluarga Bakar bin Wa’il menetap di berbagai penjuru Yamamah. Membentang hingga ke Bahrain. Taghlib menetap di jazirah Eufrat dan sebagian anak keturunannya bergabung dengan Bakar. Bani Tamim menetap di Bashrah. Bani Sulaim menetap di dekat Madinah, dari lembah-lembah di pinggiran Madinah hingga ke Khaibar di bagian Timur Madinah dan penghujung Hurrah. Tsaqif menetap di Tha’if. Hawazin di timur Mekkah, di pinggiran Authas, antara Mekkah dan Bashrah. Bani Asad menetap di timur Taima’ hingga ke Hawazin. Di Tihamah ada beberapa suku Kinanah, sedangkan di Mekkah ada suku-suku Quraisy. Mereka berpencar-pencar dan tidak ada sesuatu yang bisa menyatukan mereka, hingga muncul Qushay bin Kilab. Dialah yang telah menyatukan mereka dan membentuk satu sama lain yang bisa mengangkat kedudukan mereka. [19]

________________________________

10. Ibid (Qalbu Jaziratil Arab, hal. 230)

11. Lihat Tarikh Ardh, 2/78-86

12. Berhubung dalam kisah ini terdapat hadits maudhu’ maka kami tidak menyertakannya. Hal ini demi meniadakan kisah yang dha’if / maudhu’ dari sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

13. Jika antum ingin membacanya lebih lanjut silahkan merujuk langsung kepada bukunya Ar-Rahiq Al-Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, cet. 1 Ummul Qura, hal. 48.

14. Rahmatun Lil-‘Alamin: 1/7-8, 14-17.

15. Muhadharat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah, 1/14-15.

16. HR. Muslim, 2/245, bab Fadhlu Nasabin Nabi; dan At-Tirmidzi, 2/201.

17. Setelah membawakan Hadits Shahih berikutnya dibawakan hadits Dha’if – sehingga tidak dicantumkan di artikel ini. Lihatlah Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 50, footnote; 17-18 Cet. Ummul Qura.

18. Ibid.

19. Muhadharat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah, Al-Khudhari 1/15-16.

 

[page: 47-51]


Disalin dari buku:
Judul: Ar-Rahiq Al-Makhtum
Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
Penerbit: Ummul Quro
Artikel: Ensiklopedia Buku Islam


Iklan

Tinggalkan Pesan Pembaca:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: